Jumat, 21 Agu 2026
Daerah  

Sekda Sigi Dorong Literasi Beradaptasi dengan Era Digital dan Perkuat Budaya Lokal

Penyerahan Saung Apersi pada Kegiatan Festival Literasi Kabupaten Sigi 2026 yang berlangsung di Gedung Ampera, Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Kamis (20/8/2026). FOTO : MEGALIT

SIGI – Sekretaris Daerah , , menegaskan bahwa literasi saat ini tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi telah berkembang mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari literasi digital, keuangan, data hingga budaya.

Hal tersebut disampaikan Nuim Hayat saat memberikan sambutan dalam Festival Literasi Kabupaten Sigi 2026 yang berlangsung di Gedung Ampera, Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kamis (20/8/2026).

Nuim mengajak seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman serta memahami literasi secara lebih luas.

“Hari ini literasi sudah mengglobal. Tidak hanya sebatas orang mampu baca tulis. Literasi ini begitu luar biasa. Oleh karena itu, kita harus menyesuaikan diri dan mampu beradaptasi dengan kondisi,” ujar Nuim.

Menurutnya, perkembangan teknologi menjadikan literasi digital sebagai kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Para aparatur pemerintah, termasuk kepala organisasi perangkat daerah, dituntut tidak hanya memahami tugas administratif, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan teknologi dan mengelola informasi secara baik.

Selain literasi digital, Nuim menekankan pentingnya literasi keuangan dan data. Menurutnya, aparatur yang memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pengelolaan anggaran harus memahami aspek keuangan. Sementara literasi data diperlukan untuk mendukung terwujudnya satu data Kabupaten Sigi.

“Kita harus paham urusan keuangan. Literasi data juga harus dipahami karena sekarang kita sedang mendorong terwujudnya satu data Kabupaten Sigi,” katanya.

Nuim juga mengaitkan literasi dengan pemahaman terhadap budaya lokal. Ia mencontohkan penggunaan kain bermotif Taiganja sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas dan kebudayaan masyarakat Sigi.

Menurutnya, motif Taiganja bukan sekadar corak pada pakaian, tetapi memiliki nilai simbolis yang menjadi bagian dari identitas daerah. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sigi mendorong ASN untuk menggunakan pakaian bermotif Taiganja setiap Kamis.

“Bukan soal kainnya atau coraknya, tetapi motif Taiganja ini menjadi penguat dan simbol bagi masyarakat Sigi,” jelasnya.

Menurut Nuim, pemahaman literasi juga harus melekat pada bidang tugas masing-masing. Ia mencontohkan peran Bunda Literasi sekaligus Ketua Tim Penggerak PKK yang perlu memahami berbagai program, termasuk persoalan Posyandu serta indikator dan langkah-langkah yang harus dipenuhi.

“Kita bisa bekerja karena kita paham soal urusan-urusan yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita semua,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Nuim turut memberikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sigi yang telah menggagas Festival Literasi. Ia menilai kegiatan tersebut penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai literasi sekaligus mendorong upaya mendokumentasikan sejarah dan berbagai kekayaan daerah.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi dan kolaborasi antarpihak agar berbagai program literasi dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Kita bisa kuat kalau kita bisa mendorong koordinasi yang baik dan kolaborasi yang baik. Ketika kita berjalan sendiri-sendiri, tentu akan sulit,” katanya.

Lebih lanjut, Nuim mengusulkan agar Festival Literasi Sigi ke depan tidak hanya menghadirkan kegiatan membaca dan diskusi, tetapi juga lomba yang mengangkat potensi lokal, khususnya kawasan .

Ia mengusulkan lomba cerita tentang Danau Lindu, cerita anak-anak Lindu, hingga lomba fotografi yang mengangkat keunikan kawasan tersebut.

“Kenapa tidak di Festival Literasi ada lomba cerita tentang Danau Lindu, ada lomba foto unik Danau Lindu? Ini bisa menjadi daya tarik sehingga kegiatan-kegiatan literasi tidak pernah terputus,” ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi Danau Lindu sekaligus meningkatkan daya tarik wisata melalui cerita, dokumentasi, dan karya kreatif masyarakat.

Nuim berharap gagasan tersebut dapat dikembangkan pada pelaksanaan Festival Literasi berikutnya sehingga kegiatan literasi tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi mampu mendorong kreativitas masyarakat serta memperkuat kecintaan terhadap budaya dan potensi daerah.

Ia kembali menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam pelaksanaan Festival Literasi Kabupaten Sigi 2026 dan berharap kegiatan tersebut dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak masyarakat.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *