Jumat, 21 Agu 2026
Daerah  

Bunda Literasi Sigi Dorong Peran Ibu dalam Mewujudkan Generasi Cerdas dan Berbudi Pekerti

Bunda Literasi Kabupaten Sigi, Siti Halwiah. FOTO : MEGALIT

SIGI – Bunda Literasi , , menekankan pentingnya peran keluarga, khususnya ibu, dalam menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Menurutnya, literasi tidak sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga proses membangun kebiasaan berpikir, menumbuhkan empati, serta memperluas wawasan kehidupan anak.

Hal itu disampaikan Siti Halwiah dalam kegiatan Festival Literasi Kabupaten Sigi Tahun 2026 yang berlangsung di gedung Ampera, Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Kamis (20/8/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Daerah Kabupaten Sigi, ; , ; Bunda Literasi Kabupaten Sigi, Siti Halwiah; Kepala Dinas Perpustakaan Provinsi Sulawesi Tengah, Siti Rachmi Amir Singi; Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Sigi, Noviani Koruwu; Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sigi, Jufrin; Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sigi, Latif; Kapolsek Biromaru , AKP Rudi Cornelis; serta sejumlah pemangku kepentingan terkait.

Ia mengatakan, ibu merupakan pilar utama dalam keluarga karena dari lingkungan rumah, minat belajar dan kecintaan anak terhadap buku pertama kali tumbuh.

“Literasi di mata seorang ibu bukan sekadar perkara mengeja huruf atau menuntaskan lembar teks. Lebih mendalam dari itu, literasi adalah proses menumbuhkan kebiasaan berpikir mulia, mengasah rasa empati, serta membekali anak dengan wawasan hidup,” ujar Siti Halwiah.

Menurutnya, jika masyarakat menginginkan lahirnya generasi Sigi yang santun, kreatif, dan berwawasan luas, kebiasaan mendampingi anak untuk mencintai buku harus dimulai dari rumah.

“Buku adalah sahabat paling setia. Ketika kita mengenalkan kebiasaan melihat dunia melalui lembaran buku kepada anak, kita sedang melihat masa depan mereka dengan penuh rasa cinta,” katanya.

Siti Halwiah juga mengajak para orang tua menjadikan perpustakaan dan pojok baca sebagai ruang yang menyenangkan bagi anak. Menurutnya, kegiatan membaca tidak harus berlangsung secara formal, tetapi dapat dikemas sebagai aktivitas yang menarik sehingga anak merasa nyaman dan senang berinteraksi dengan buku.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengaitkan gerakan literasi dengan upaya mewujudkan Kabupaten Layak Anak. Ia menjelaskan, kebijakan perlindungan anak memiliki landasan mulai dari Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak beserta regulasi turunannya, termasuk Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2021 tentang Kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak serta Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 12 Tahun 2022.

Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan Pemerintah Kabupaten Sigi juga telah memiliki regulasi terkait perlindungan anak dan Kabupaten Layak Anak.

Siti Halwiah menyebut Kabupaten Sigi saat ini berada pada predikat Pratama dalam penilaian Kabupaten Layak Anak. Karena itu, seluruh pihak didorong untuk bersama-sama meningkatkan capaian tersebut menuju predikat Madya dan jenjang berikutnya.

Ia menjelaskan, salah satu bagian penting dalam Kabupaten Layak Anak adalah pemenuhan hak anak di bidang pendidikan, pemanfaatan waktu luang, kegiatan budaya, hingga penyediaan informasi yang layak bagi anak.

“Kalau kita bicara informasi layak anak, harus ada pojok-pojok informasi dan ruang yang ramah anak di berbagai tempat. Karena itu hari ini kita bersinergi bersama semua pihak yang berhubungan dengan Kabupaten Layak Anak,” jelasnya.

Siti Halwiah juga mendorong para Bunda Literasi di tingkat kecamatan hingga desa untuk terus menghidupkan pojok baca, pojok buku, serta kegiatan berkisah di wilayah masing-masing.

Ia mencontohkan sejumlah desa yang telah berinovasi dalam menyediakan ruang baca bagi masyarakat. Bahkan, fasilitas yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diubah menjadi pojok baca.

“Di Desa Anca sudah ada pojok baca. Ada juga desa yang memanfaatkan tempat yang sebelumnya menjadi tempat sampah kemudian dijadikan pojok baca. Ini menunjukkan bahwa gerakan literasi bisa dilakukan dengan kreativitas dan semangat bersama,” ujarnya.

Selain keluarga dan pemerintah, ia menilai keterlibatan anak juga penting. Karena itu, keberadaan Forum Anak di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi perlu terus diperkuat sebagai ruang partisipasi anak.

Siti Halwiah berharap Festival Literasi Kabupaten Sigi 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara keluarga, sekolah, lingkungan tempat tinggal, pemerintah, dan para pegiat literasi.

“Gerakan ini akan terasa ringan bila sekolah, lingkungan tempat tinggal, serta para pegiat literasi berjalan berdampingan dan saling menguatkan,” katanya.

Ia berharap seluruh ikhtiar tersebut dapat mendukung terwujudnya generasi Sigi yang cerdas, kreatif, santun, dan memiliki budi pekerti luhur.

“Selamat melaksanakan Festival Literasi Tahun 2026. Kiranya setiap ikhtiar mulia ini menjadi ladang kebaikan demi terwujudnya generasi Sigi yang cerdas dan berbudi pekerti luhur,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *