SIGI – Di tengah keterbatasan akses pendidikan di wilayah terpencil, sosok Kuswanto justru muncul sebagai motor perubahan. Guru asal SD Negeri Kayumpia, Kecamatan Kinovaro, ini membuktikan bahwa dedikasi mampu menembus batas geografis hingga ke panggung nasional.
Perjalanan Kuswanto tidak sekadar tentang deretan penghargaan, tetapi tentang misi besar memperbaiki kualitas pendidikan di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T).
Berangkat dari ruang kelas sederhana, ia kini dipercaya mengemban peran sebagai pengawas sekolah, dengan fokus membina guru dan memperkuat kualitas pembelajaran di wilayah yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan.
Sejumlah capaian nasional yang diraih, seperti Juara I Guru Dedikatif SD Terbaik Nasional dan penghargaan Anugerah ASN, menjadi bukti nyata konsistensinya.
Penghargaan sebagai Guru Hebat Indonesia pada 2024 semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu figur inspiratif di dunia pendidikan.
Namun bagi Kuswanto, prestasi bukanlah tujuan akhir. Ia justru melihatnya sebagai pintu untuk memperluas dampak. Dalam perannya sebagai pengawas, ia mendorong peningkatan kompetensi guru melalui pendekatan yang lebih personal dan berbasis karakter.
“Fokus saya bukan hanya pada capaian akademik, tetapi bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang berkarakter dan bermakna bagi siswa,” ujarnya usai kegiatan deklarasi pendidikan di halaman Kantor Bupati Sigi, Rabu (15/4/2026).
Pendekatan yang ia kembangkan dikenal dengan konsep “Pakagali-Pakagaya Posikola”, yang menekankan nilai-nilai seperti keimanan, kebersihan, kerapian, hingga kenyamanan lingkungan sekolah.
Program ini dirancang untuk membentuk budaya belajar yang positif sekaligus memperkuat identitas sekolah di daerah.
Perjalanan karier Kuswanto juga diwarnai momen bersejarah saat ia diundang langsung oleh Presiden Republik Indonesia dan menerima Piala Adhigana, serta kenaikan pangkat luar biasa dari Kementerian PAN-RB. Namun, ia tetap memilih kembali ke daerah untuk mengabdi.
Sementara itu, Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, menilai kiprah Kuswanto sebagai contoh nyata bahwa sumber daya manusia daerah mampu bersaing di tingkat nasional.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi dorongan bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat sektor pendidikan, terutama melalui program sekolah ramah anak dan sistem pembelajaran yang inklusif.
“Ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga motivasi bagi seluruh tenaga pendidik di Sigi untuk terus berinovasi,” ujarnya.
Ke depan, Kuswanto berencana kembali mengikuti ajang pengawas dedikatif tingkat nasional pada peringatan Hari Guru Nasional, dengan membawa inovasi yang telah ia kembangkan di wilayah Kinovaro.
Di balik segala pencapaian itu, satu hal yang tetap menjadi pijakan utamanya: memastikan anak-anak di wilayah terpencil mendapatkan pendidikan berkualitas yang setara, tanpa terkendala oleh jarak dan keterbatasan.***







