CARE–KARSA Bangun Perdamaian dan Ketangguhan Masyarakat Lewat Perempuan dan Pemuda

  • Whatsapp
Program WE NEXUS di Hotel Best Western Coco Palu, Kamis (29/1/2026). FOTO : MEGALIT

SIGI – Upaya membangun perdamaian dan ketangguhan masyarakat, termasuk kelompok perempuan dan pemuda, terus diperkuat oleh CARE Indonesia bersama KARSA Institute dengan dukungan UN Women dan pendanaan dari KOICA di enam desa di Kabupaten Sigi.

Program tersebut dilaksanakan di Desa Ngatabaru, Pombewe, Pesaku, Rarampadende, Wisolo, dan Ramba, dengan fokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan, penguatan kesetaraan gender, serta pengembangan peran pemuda sebagai agen perdamaian.

Melalui pembentukan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP), peran dan kepemimpinan perempuan di desa berhasil diperkuat sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga. Selain itu, pendekatan kesetaraan gender yang diterapkan dinilai mampu memperkuat relasi dan akses di tingkat rumah tangga, komunitas, hingga pemerintahan desa.

Keberhasilan tersebut ditandai dengan ditetapkannya enam desa tersebut, ditambah dua desa tetangga yakni Desa Launca dan Desa Moa, sebagai Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA).

Tidak hanya itu, penguatan jejaring pemuda lintas desa juga berhasil menjadikan pemuda sebagai aktor pencipta perdamaian yang berperan dalam mencegah terjadinya konflik sosial.

CEO CARE Indonesia, Dr. Abdul Wahib Situmorang, menjelaskan bahwa upaya mendorong ketangguhan dan perdamaian masyarakat kerap kali belum sepenuhnya melibatkan perempuan dan pemuda secara optimal.

“Perempuan selama ini menjadi penyangga ketangguhan sosial, tetapi sering tidak diakui secara formal. Sementara pemuda kerap diposisikan sebagai aktor konflik. Padahal, penguatan dan pelibatan perempuan serta pemuda merupakan kunci dalam mendorong resiliensi masyarakat, terutama di Kabupaten Sigi yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam dan dinamika konflik sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan, pendekatan dengan perspektif kesetaraan gender diterapkan dengan menyesuaikan praktik desa, tata kelola lokal, serta pemanfaatan ruang-ruang informal dan digital.

“Hasil baik ini diharapkan dapat memperkaya kerangka Humanitarian–Development–Peace (HDP) Nexus dan dapat terus berjalan secara berkelanjutan,” tambahnya.

Salah satu penerima manfaat, Mutmainah, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Ramba, mengungkapkan bahwa edukasi dan pendampingan terkait kesetaraan gender membawa perubahan positif dalam kehidupan rumah tangganya.

“Edukasi kesetaraan gender yang melibatkan saya dan suami memperkuat pembagian peran di rumah. Saya juga menjadi lebih memahami kebutuhan perempuan dan laki-laki dalam pembangunan desa,” ujarnya saat mengikuti Workshop Pembelajaran Implementasi Program WE NEXUS di Hotel Best Western Coco Palu, Kamis (29/1/2026).

Ia juga merasakan manfaat setelah tergabung dalam KUEP Desa Ramba. Menurutnya, KUEP tidak hanya mengajarkan pengelolaan keuangan, tetapi juga menyediakan akses permodalan melalui sistem simpan-pinjam yang disepakati bersama.

“Pada siklus kedua ini, modal KUEP Desa Ramba sudah mencapai Rp46.850.000. Ini sangat membantu menambah pendapatan keluarga,” jelas Mutmainah.

Hal serupa disampaikan Sandi, perwakilan pemuda dari Desa Rarampadende. Ia mengaku jarang dilibatkan dalam forum desa sebelumnya, sehingga program ini membuka ruang dialog dan kolaborasi antarpemuda lintas desa.

“Lewat kemah pemuda dan forum diskusi informal, saya jadi mengenal teman-teman dari desa lain. Kami bahkan membentuk grup media sosial dan menyelenggarakan pekan olahraga antar desa agar hubungan semakin kuat dan tidak ada konflik ke depan,” katanya.

Ketua Dewan Pengurus KARSA Institute, Rahmat Saleh, mengatakan bahwa pelibatan pemuda dan pemberdayaan ekonomi perempuan telah mendapat dukungan dari pemerintah desa dan dinas terkait.

“Operasional KUEP, keberlanjutan DRPPA, serta kegiatan kepemudaan sudah masuk dalam perencanaan desa. Ini menunjukkan komitmen pemerintah desa dalam menjaga keberlanjutan program,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, menyambut baik perubahan dan ketangguhan masyarakat desa, khususnya di kalangan perempuan dan pemuda.

“Pemkab Sigi berfokus pada tiga aspek penanganan krisis, yakni pencegahan, penanganan, dan rehabilitasi berkelanjutan. Kolaborasi CARE Indonesia dan KARSA di enam desa ini sejalan dengan fokus tersebut. Ini menjadi pembelajaran penting untuk diterapkan di seluruh desa di Kabupaten Sigi,” kata Bupati.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sigi mendukung penuh penguatan pemberdayaan perempuan dan jejaring pemuda sebagai bagian dari strategi membangun ketangguhan masyarakat secara menyeluruh.

Diketahui, Yayasan CARE Peduli (CARE Indonesia) merupakan organisasi kemanusiaan yang berfokus pada manajemen risiko bencana, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, kesetaraan gender, serta keadilan sosial.

CARE Indonesia secara resmi beroperasi sebagai entitas nasional sejak 2018 dan merupakan bagian dari konfederasi CARE International yang telah hadir di Indonesia sejak 1967.

Melalui pendekatan ketahanan holistik, CARE Indonesia mengadopsi strategi terintegrasi untuk memastikan hasil program yang kuat dan berkelanjutan dengan menjadikan kesetaraan gender sebagai landasan utama pembangunan.***

 

Pos terkait