SIGI – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kabobona, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, terus mengembangkan usaha budidaya ikan nila untuk memperkuat ekonomi desa.
Berawal dari tiga kolam bioflok melalui penyertaan modal program ketahanan pangan pada 2025, usaha tersebut kini berkembang menjadi enam kolam bioflok dan 12 kolam tanah.
Direktur BUMDes Kabobona, Herianto, mengatakan pengembangan budidaya ikan air tawar menjadi salah satu inovasi unggulan yang terus didorong untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Menurutnya, pemanfaatan kolam bioflok pada tahap awal menjadi sarana pembelajaran bagi pengelola BUMDes dalam memahami teknik budidaya, menghitung biaya produksi, dan melihat peluang pemasaran ikan nila.
Setelah melihat hasil budidaya yang cukup baik serta permintaan pasar yang menjanjikan, pihaknya kemudian mengembangkan usaha melalui kolam tanah dengan sistem intensif yang menggunakan bantuan kincir air.
“Awalnya kami membangun tiga kolam bioflok, kemudian berkembang menjadi enam kolam. Setelah melihat hasil dan peluang pemasaran, kami berinisiatif mengembangkan budidaya melalui kolam tanah untuk meningkatkan populasi ikan,” ujar Herianto Jumat (16/10/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan kolam tanah dilakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan lahan yang masih cukup luas di Desa Kabobona. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas skala usaha BUMDes.
Dari sisi usaha, Herianto menyebutkan budidaya ikan nila di Kabobona masih memiliki prospek yang baik. Rasio konversi pakan atau Feed Conversion Ratio (FCR) yang dicapai saat ini sekitar 1,5, yakni membutuhkan sekitar 1,5 kilogram pakan untuk menghasilkan satu kilogram daging ikan.
Sementara itu, harga jual ikan nila di tingkat usaha BUMDes berkisar Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram. Menurutnya, permintaan masyarakat terhadap ikan nila menjadi salah satu faktor yang mendukung keberlanjutan usaha tersebut.
Meski demikian, ia mengakui pengembangan budidaya ikan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan modal, ketersediaan air irigasi, serta harga pakan yang terus meningkat.
Terkait irigasi, lokasi budidaya berada berdekatan dengan kawasan peternakan babi di bagian atas di Desa Jono Oge. Herianto mengatakan pihaknya belum melihat dampak langsung terhadap kegiatan budidaya, tetapi mengharapkan adanya peninjauan dari pemerintah daerah maupun pihak terkait untuk memastikan kelayakan sumber air bagi usaha tersebut.
“Kami berharap pemerintah daerah atau pihak yang menangani irigasi dapat meninjau lokasi kami, apakah memungkinkan mendapatkan pasokan air dari saluran irigasi sekunder atau perlu alternatif lain,” jelasnya.
Selain persoalan air, biaya pakan juga menjadi tantangan utama dalam menjaga efisiensi produksi. Karena itu, ia berharap Pemerintah Kabupaten Sigi dapat membantu mencarikan solusi, baik melalui dukungan penyediaan pakan, pengembangan produksi pakan mandiri, maupun kemitraan yang dapat mendukung kebutuhan BUMDes.
Perluas Kemitraan dan Pasar
Untuk memperbesar skala usaha, BUMDes Kabobona mulai membangun jaringan kemitraan dengan sejumlah desa. Herianto menyebutkan, kemitraan telah dijalin dengan Desa Kalukubula, Langaleso, dan Waturalele, serta sedang dikembangkan di Desa Sidondo.
Melalui jaringan tersebut, BUMDes Kabobona berharap dapat berperan sebagai pusat pemasaran hasil budidaya ikan dari desa-desa mitra.
“Harapan kami ke depan, BUMDes Kabobona bisa menjadi sentra perikanan di Kabupaten Sigi, dengan pasar tersendiri yang dikelola BUMDes sehingga hasil budidaya dapat dipasarkan lebih luas,” katanya.
Selain memperkuat pemasaran ikan segar, pihaknya juga berencana melibatkan perempuan, khususnya ibu-ibu yang tinggal di sekitar lokasi budidaya, dalam pengolahan ikan menjadi produk siap saji.
Upaya tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, meningkatkan nilai tambah hasil perikanan, serta memperluas keterlibatan warga dalam kegiatan ekonomi desa.
Di sisi lain, BUMDes Kabobona tetap menjalankan unit usaha produksi batu bata merah yang telah dikelola sebelumnya. BUMDes juga memberikan pendampingan kepada masyarakat yang beraktivitas di wilayah pertambangan rakyat, khususnya terkait tata kelola dan upaya mencegah pencemaran lingkungan.
Herianto menegaskan, pengembangan berbagai unit usaha tersebut diarahkan agar kegiatan BUMDes mampu melibatkan masyarakat, membuka peluang kerja, dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan desa.
Terkait pembagian hasil usaha budidaya ikan, ia mengatakan rencananya akan dibahas melalui musyawarah desa pada Desember 2026, termasuk skema pembagian hasil bagi pemerintah desa dan masyarakat pemilik lahan yang digunakan untuk kegiatan budidaya.
Melalui pengembangan usaha, perluasan kemitraan, dan penguatan pemasaran, BUMDes Kabobona menargetkan terbentuknya usaha perikanan yang berkelanjutan serta mampu memberikan manfaat ekonomi lebih luas bagi masyarakat dan desa.***





