JAKARTA – Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), Anwar Hafid, menggelar pertemuan dengan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Tatacipta Dirgantara, beserta jajaran, di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Pertemuan tersebut turut dihadiri Ketua Satuan Tugas Penyelesaian Konflik Agraria (PKA) Akris Fattah Yunus, Ketua Harian PKA Eva Bande, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Sulawesi Tengah, Sandra Tobondo, serta Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Firmanzah DP.
Pertemuan ini bertujuan menjalin sinergi antara Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dan salah satu perguruan tinggi teknik terkemuka di Indonesia, khususnya dalam bidang pendidikan, penelitian, pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan pembangunan daerah.
Gubernur Anwar Hafid menyampaikan bahwa sejak dilantik, salah satu komitmen besarnya adalah membangun kemitraan strategis dengan perguruan tinggi ternama seperti ITB.
Ia menegaskan, program unggulan Pemprov Sulteng, Berani Cerdas, menjadi fokus utama dalam pengembangan SDM melalui alokasi anggaran untuk menekan angka anak putus sekolah serta pemberian beasiswa bagi mahasiswa asal Sulawesi Tengah di seluruh Indonesia, baik melalui jalur prestasi maupun afirmasi.
Program beasiswa tersebut menanggung Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga mahasiswa lulus sarjana selama delapan semester.
Gubernur Anwar Hafid juga menyampaikan adanya kerja sama yang telah berjalan dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) di bidang metalurgi yang melibatkan 40 mahasiswa asal Sulawesi Tengah.
Ia berharap kerja sama serupa dapat dijalin dengan ITB, terutama pada sektor sumber daya alam seperti pertambangan nikel yang masih membutuhkan SDM berkeahlian tinggi.
“Masyarakat kami banyak yang bercita-cita kuliah di ITB. Kami berharap dapat dibukakan ruang kerja sama di bidang pendidikan, khususnya metalurgi dan bidang teknis lainnya,” ujar Anwar Hafid.
Ia menambahkan, pendidikan menjadi prioritas utama dalam masa kepemimpinannya, termasuk kerja sama di bidang tata ruang serta kajian kerusakan rumah warga di Desa Sulewana sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik agraria secara objektif dan berbasis kajian ilmiah.
Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menegaskan bahwa ITB berkomitmen menjadi miniatur Indonesia dengan keterwakilan mahasiswa dari seluruh provinsi, termasuk Sulawesi Tengah.
ITB, lanjut Tatacipta, aktif menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, antara lain melalui program penyediaan air bersih di wilayah Indonesia timur serta kajian kebencanaan.
“Sulawesi Tengah memiliki banyak potensi, mulai dari perikanan, sumber daya alam, hingga pengembangan ekonomi. Kami siap berkontribusi sesuai dengan keilmuan yang dimiliki ITB,” ungkap Tatacipta.
Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan tata ruang terkait kerentanan bencana, serta menyarankan agar kerja sama tidak terbatas pada kelas khusus, tetapi melibatkan berbagai disiplin ilmu seperti Teknik Sipil, Teknik Lingkungan, program magister profesional, hingga pengembangan kapasitas guru.
Di kesempatan yang sama, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Irwan Meilano, menyatakan kesiapan ITB menerima calon mahasiswa asal Sulawesi Tengah, termasuk melalui program seleksi siswa unggul yang direncanakan berlangsung pada April 2026.
Ia juga menyampaikan bahwa program metalurgi internasional ITB telah bekerja sama dengan mitra di Australia serta menjalin kolaborasi dengan industri di Morowali dan Dekan Fakultas Teknik Universitas Tadulako.
Ketua Satgas PKA, Akris Fattah Yunus, mengapresiasi kepemimpinan Gubernur Anwar Hafid yang dinilainya sebagai “berkah” bagi masyarakat Sulawesi Tengah karena membuka akses pendidikan tinggi secara gratis.
Ia juga menyoroti dampak industri ekstraktif terhadap lingkungan serta potensi penerapan teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar untuk daerah yang mengalami keterbatasan air bersih, seperti Banggai Kepulauan dan Banggai Laut.
Sementara itu, Kepala BRIDA Sulawesi Tengah, Sandra Tobondo, berharap pertemuan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemprov Sulawesi Tengah dan ITB.
Ia menyebutkan adanya peluang sinkronisasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam pengembangan industri, pangan, dan kebencanaan, serta potensi kolaborasi antara Pusat Agraria ITB dan program penyelesaian konflik agraria di tingkat provinsi, termasuk kerja sama dengan mitra internasional seperti JICA.
Sebagai rekomendasi, hasil pertemuan tersebut akan segera ditindaklanjuti oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah bersama Bappeda Sulawesi Tengah dalam waktu dekat.
Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi strategis untuk mendorong kemajuan pendidikan, riset, dan pembangunan berkelanjutan di Sulawesi Tengah.***







