Polwan Berdedikasi dari Sulteng, AKP Siti Elminawati Masuk Nominasi Hoegeng Awards 2026

  • Whatsapp
Kasat Reskrim Polres Sigi, AKP Siti Elminawati. FOTO : MEGALIT

SIGI – Di balik seragam kepolisian yang dikenakannya, AKP Siti Elminawati menyimpan lebih dari dua dekade perjuangan membela mereka yang paling rentan — perempuan dan anak-anak yang terjebak dalam kekerasan dan eksploitasi.

Kini, dedikasi panjang Kasat Reskrim Polres Sigi, Polda Sulawesi Tengah itu mendapat pengakuan nasional setelah namanya masuk dalam nominasi Hoegeng Awards 2026 kategori Polisi Pelindung Perempuan, Anak, dan Kelompok Rentan.

Penghargaan bergengsi yang dipersembahkan oleh detikcom bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia ini hadir untuk mengapresiasi sosok polisi yang inovatif, berdedikasi, berintegritas, serta berperan nyata dalam melindungi masyarakat — termasuk di tapal batas dan pelosok negeri.

Lebih dari Dua Dekade di Garis Terdepan

AKP Siti Elminawati bukan nama baru di dunia perlindungan perempuan dan anak. Ia mulai mengabdi di Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) sejak tahun 2000 — sebuah komitmen yang telah ia pegang selama lebih dari 25 tahun.

Namanya diusulkan oleh Dewi Rana, seorang warga Kota Palu, yang menyaksikan langsung bagaimana sosok ini bekerja dengan hati.

Dikenal sebagai perwira yang humanis, responsif, dan konsisten, AKP Siti selalu menempatkan perlindungan korban sebagai prioritas utama.

Kehadirannya, dinilai mampu menumbuhkan rasa aman dan memulihkan kepercayaan masyarakat kepada institusi kepolisian.

Membongkar Jaringan Perdagangan Bayi

Salah satu kasus paling menggetarkan yang pernah ditangani AKP Siti adalah kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) terhadap seorang bayi berusia satu tahun yang diduga hendak dijual oleh ibunya sendiri melalui media sosial — dengan harga Rp 12,5 juta — dari Palu ke Bangka Belitung.

Bergerak cepat bersama tim, AKP Siti berhasil menyelamatkan bayi tersebut dan mengamankan empat orang pelaku untuk diproses hukum. Namun ia tidak berhenti di situ. Dari pengembangan jaringan yang sama, terungkap ada bayi lain yang hendak diperdagangkan di Jakarta — dan kembali berhasil diselamatkan.

Kasus serupa juga ia tangani di wilayah Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, di mana korban asal Sulawesi Tengah terlibat dalam praktik prostitusi di bawah umur.

Di luar penanganan kasus besar, AKP Siti juga pernah menyelamatkan bayi baru lahir yang dibuang di taman kota saat masih menjabat di Polsek Mantikulore, Palu.

ABG Diperkosa 11 Orang, Pelaku Dihukum Penjara

Pada 2023, AKP Siti menangani kasus yang mengguncang publik: seorang anak perempuan di bawah umur di Parigi Moutong (Parimo) diperkosa oleh 11 orang pria.

Kasus ini terungkap melalui laporan masyarakat, dan AKP Siti menyebut adanya unsur transaksional dalam perkara tersebut.

Dengan kerja keras tim penyidik, kasus ini berhasil dibawa hingga meja pengadilan. Para pelaku dijatuhi hukuman, di antaranya 9 tahun penjara.

Polwan Pertama Kasat Reskrim di Sulteng

Pada Juli 2025, AKP Siti mencatat sejarah baru: ia dilantik sebagai Kasat Reskrim Polres Sigi — menjadikannya Polwan pertama yang menduduki jabatan tersebut di lingkungan Polda Sulawesi Tengah.

Di posisi barunya, ia langsung menyoroti maraknya kasus pencabulan anak dan pernikahan di bawah umur di wilayah Sigi.

Pendekatannya tidak hanya penegakan hukum, tetapi juga edukasi langsung ke sekolah-sekolah, tokoh agama, tokoh adat, hingga kepala desa.

AKP Siti menegaskan, kasus kekerasan seksual tidak boleh diselesaikan secara kekeluargaan, apalagi dengan menikahkan korban dengan pelaku.

Menurutnya, praktik semacam itu justru memunculkan masalah baru — data menunjukkan banyak pernikahan yang dipaksakan berujung pada perceraian.

“Pihak yang menikahkan pun bisa dijerat hukum, bukan hanya Undang-Undang Perkawinan, tapi juga UU Perlindungan Anak, khususnya Pasal 55,” tegasnya.

Inspirasi dari Sulteng untuk Indonesia

Perjalanan AKP Siti Elminawati adalah bukti bahwa dedikasi yang tulus mampu mengubah wajah penegakan hukum menjadi lebih manusiawi.

Dari menyelamatkan bayi yang diperdagangkan, mengungkap jaringan TPPO lintas provinsi, hingga mendidik masyarakat soal hak-hak anak — semua ia lakukan dengan satu tujuan: tidak ada anak yang dibiarkan menjadi korban dua kali.

Nominasinya dalam Hoegeng Awards 2026 bukan sekadar penghargaan pribadi, melainkan cermin dari harapan masyarakat terhadap sosok polisi yang benar-benar hadir untuk rakyat.***

Pos terkait