Festival Danau Lindu 2026 Hadirkan 5 Titik Atraksi, Fokus Promosikan Wisata Desa

  • Whatsapp
Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, didampingi Kadis Pariwisata, Jufrin, Ketua DKS, Akbar Dian dan Jumadil saat konferensi pers usai kick off Festival Danau Lindu 2026, di RTH Taiganja, Kamis (2/7/2026). FOTO : MEGALIT

SIGI – Ketua Dewan Kesenian Sigi, Akbar Dian, mengungkapkan bahwa penyelenggaraan Festival Danau Lindu 2026 menghadirkan sejumlah inovasi sebagai tindak lanjut arahan pemerintah pusat agar setiap pelaksanaan festival terus berkembang dari tahun ke tahun.

Menurut Akbar, pihaknya terus berkoordinasi dengan Kementerian terkait pengembangan Festival Danau Lindu. Salah satu hasil koordinasi tersebut adalah penekanan agar setiap penyelenggaraan festival menghadirkan inovasi yang mampu meningkatkan kualitas penyelenggaraan sekaligus memperkuat daya tarik wisata.

Salah satu inovasi utama tahun ini adalah penyebaran titik atraksi ke sejumlah desa di kawasan Danau Lindu. Jika pada tahun sebelumnya sebagian besar kegiatan terpusat di Desa Tomado, maka berdasarkan hasil evaluasi jumlah kunjungan dan karakteristik pengunjung, atraksi tahun ini dibagi ke empat desa dengan total lima titik kegiatan.

“Kami melakukan penyebaran atraksi agar manfaat festival dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat di kawasan Danau Lindu, sekaligus memberikan pengalaman berbeda bagi para pengunjung,” ujar Akbar.

Ia menjelaskan, kegiatan cross country atau orienteering akan berakhir di desa seberang dan peserta selanjutnya dijemput menuju lokasi penginapan di Desa Anca.

Sementara itu, Desa Puroo akan menjadi lokasi pelaksanaan Sigi Kreatif serta wisata kopi. Desa Olu akan menampilkan potensi wisata anggrek sebagai salah satu daya tarik baru bagi wisatawan.

Perubahan juga dilakukan pada penyelenggaraan pertunjukan adat. Jika sebelumnya dipusatkan di Desa Tomado, maka tahun ini seluruh pertunjukan adat dipindahkan ke Desa Langko.

Menurut Akbar, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong Padang Langko menjadi salah satu destinasi wisata unggulan yang semakin dikenal masyarakat luas.

Meski demikian, Desa Tomado tetap menjadi salah satu pusat pertunjukan seni lokal yang menampilkan berbagai kesenian masyarakat Lindu.

Akbar menegaskan Festival Danau Lindu memiliki konsep yang berbeda dibandingkan festival-festival lain di Sulawesi Tengah. Festival ini tidak berorientasi pada hiburan massal, melainkan mengedepankan kekayaan budaya, keindahan alam, dan kearifan lokal masyarakat Lindu.

“Tahun ini kami ingin mempertahankan identitas Festival Danau Lindu sebagai festival tematik yang mengangkat budaya, alam, dan tradisi masyarakat Lindu,” katanya.

Di Desa Anca, panitia juga menghadirkan inovasi melalui branding desa sebagai destinasi wisata baru. Sebuah kafe yang dibangun atas inisiatif pemerintah desa akan menjadi lokasi penyelenggaraan Panggung Urban.

Melalui konsep tersebut, pengunjung dapat menikmati pertunjukan musik akustik dan instrumen ringan sambil bersantai serta mencicipi kuliner khas Desa Anca, termasuk ikan mujair khas Danau Lindu.

Akbar mengatakan seluruh inovasi tersebut merupakan bagian dari persiapan menuju target besar Festival Danau Lindu pada 2027.

Jika sebelumnya perhatian publik lebih banyak tertuju pada kemeriahan panggung hiburan, maka mulai tahun ini fokus penyelenggaraan diarahkan pada penguatan destinasi wisata di setiap desa.

Paket-paket wisata dan pengalaman berkunjung ke desa-desa di kawasan Danau Lindu akan lebih ditonjolkan sehingga Festival Danau Lindu benar-benar menjadi media promosi destinasi wisata Kabupaten Sigi sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.***

Pos terkait