Haul Guru Tua: Merawat Ingatan, Menguatkan Peradaban

  • Whatsapp
Sekretaris Jendral Pengurus Besar Alkhairaat, Drs Jamaludin Mariajang. FOTO : IST

Oleh: Drs.Jamaludin Mariajang / Sekretaris Jendral Pengurus Besar Alkhairaat

Haul bukan sekadar tradisi seremonial. Di lingkungan Alkhairaat, peringatan haul memiliki makna yang jauh lebih dalam: ia adalah ruang kolektif untuk merawat ingatan, sekaligus meneguhkan arah peradaban. Sosok yang diperingati bukan hanya seorang ulama, tetapi juga arsitek sosial yang jejaknya masih terasa hingga hari ini, yakni Sayyid Idrus bin Salim Aljufri.

Guru Tua bukanlah figur yang berdiri sendiri. Ia adalah pertemuan antara keunggulan pribadi dan kekuatan masyarakat. Dari perpaduan itu lahir sebuah mahakarya besar bernama Alkhairaat—sebuah gerakan pendidikan dan dakwah yang tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang melintasi zaman. Maka, ketika kita berbicara tentang Guru Tua, sesungguhnya kita juga sedang berbicara tentang Alkhairaat sebagai manifestasi nyata dari gagasan dan perjuangannya.

Madrasah Alkhairaat yang tersebar hingga ke pelosok desa bukan sekadar institusi pendidikan. Ia adalah simbol kehadiran Guru Tua di tengah masyarakat. Setiap bangunan madrasah, setiap ruang belajar, dan setiap generasi yang lahir dari rahim Alkhairaat merupakan bukti bahwa gagasan besar dapat hidup dan berakar kuat ketika bersenyawa dengan kebutuhan umat.

Di titik inilah kita menemukan makna penting haul. Ia bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga membaca ulang hubungan antara individu dan masyarakat. Guru Tua telah menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem sosial, bukan di luar atau di atasnya. Kesadaran inilah yang kemudian diwujudkan dalam pembentukan Pengurus Besar Alkhairaat pada tahun 1956—sebuah langkah visioner yang menegaskan bahwa gerakan ini harus memiliki fondasi struktural yang kokoh.

Tidak mengherankan jika hingga kini, pelaksanaan haul tetap berada dalam kendali organisasi, yakni Pengurus Besar Alkhairaat. Sejak wafatnya Guru Tua pada tahun 1969, tradisi ini terus dijaga secara konsisten. Inilah yang membedakan haul di lingkungan Alkhairaat dengan tradisi serupa di tempat lain: ia tidak hanya bersifat kultural, tetapi juga organisasional.

Lebih jauh, dalam diri Guru Tua melekat simbol masyarakat itu sendiri. Ia pernah memimpin dengan predikat “Presiden Alkhairaat”, yang kemudian bertransformasi menjadi Ketua Utama dalam struktur organisasi saat ini. Perubahan istilah tersebut tidak mengubah esensi: bahwa kepemimpinan dalam Alkhairaat adalah representasi dari kehendak kolektif umat. Karena itu, penetapan panitia haul oleh Ketua Utama bukan sekadar prosedur administratif, melainkan bagian dari kesinambungan nilai dan tradisi.

Pada akhirnya, haul yang diperingati setiap 12 Syawal harus dimaknai lebih dari sekadar agenda tahunan. Ia adalah momentum untuk meneguhkan kembali komitmen terhadap pendidikan, dakwah, dan pengabdian sosial—nilai-nilai yang telah diwariskan oleh Guru Tua. Tanpa pemaknaan yang demikian, haul berisiko kehilangan ruhnya dan terjebak menjadi rutinitas tanpa makna.

Merawat haul berarti merawat ingatan. Dan merawat ingatan adalah cara kita menjaga arah. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, Alkhairaat dituntut tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga mengembangkannya agar tetap relevan. Di sinilah tantangan sekaligus harapan itu berada.

Haul Guru Tua, dengan demikian, bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah milik masa kini dan masa depan.***

Pos terkait